Kamis, 17 Januari 2013

Bercerita Lewat Fotografi



Teknik Fotografi - Pastinya ada banyak sekali alasan kenapa Kita mencintai fotografi, dan alasan yang paling sederhana adalah karena sebuah foto atau foto berseri yang memiliki cerita pada saat kita melihatnya. Selama berabad-abad orang-orang berkumpul di sekitar api unggun, alun-alun tengah kota, makan bersama dan menceritakan kisah mereka masing-masing, dan ini sudah menjadi sebuah kebiasaan bahkan kebudayaan yang sering dilakukan. Sekarang sedikit banyaknya hal tersebut mulai bergeser, banyak orang-orang tua yang mengeluh bahwa seni bercerita telah hilang seiring dengan berkembangnya teknologi.

Story without words

Ilustrasi diatas memang ada benarnya, tetapi kemungkinan juga hanya cara kita bercerita telah berubah. Salah satu media untuk bercerita pada era sekarang adalah lewat fotografi digital. Sebuah foto memiliki kemampuan untuk menunjukkan emosi, gairah, narasi, gagasan serta pesan, dan semua itu adalah elemen-elemen penting dari aktifitas "bercerita". Tentu saja menceritakan sebuah kisah bukanlah suatu hal yang terjadi begitu saja. Seorang pencerita atau pendongeng yang baik pasti telah belajar bagaimana bercerita dan mengaplikasikan keahlian mereka. Berikut ini adalah beberapa tips bercerita lewat fotografi.

Cerita Pendek

Cerita datang di semua bentuk serta ukuran. Beberapa adalah cerita panjang (novel sampai trilogi) tetapi lainnya bisa merupakan cerita pendek, jika kita melihat dari sudut pandang fotografi bisa jadi itu merupakan satu atau dua foto yang bisa bercerita. Kebanyakan fotografi surat kabar cocok dalam kategori foto cerita, dimana satu foto menggambarkan esensi dari sebuah cerita yang disertakan dalam surat kabar tersebut. Dalam surat kabar tidak memiliki beberapa frame eksklusif yang berisi perkenalan, ulasan, serta kesimpulan, jadi surat kabar hampir selalu berusaha menceritakan kisah tentang satu aktifitas daripada cerita atau event yang panjang.
Urban Black & White Street Photography
Foto yang bisa bercerita memerlukan sesuatu yang unik untuk menarik perhatian orang. Mereka biasanya memiliki focal point yang secara narasi atau visual mengarahkan orang ke dalam foto tersebut. Foto yang berisi cerita pendek kebanyakan membawa penikmat foto agar bertanya-tanya dan berpikir tentang apa yang mereka lihat, bukan karena mereka tidak mengerti, melainkan karena timbul sebuah intrik dan membayangkan apa yang terjadi di balik foto tersebut, dan menerka-nerka adegan-adegan berikutnya setelah gambar tersebut diambil.

Ciptakan Hubungan

Ketika bercerita melalui satu gambar atau foto pertimbangkan untuk memasukkan lebih dari satu orang ke dalam frame, melakukan ini berarti Anda memasukkan unsur "relasi" ke dalam foto, dimana akan menumbuhkan pengalaman visual orang yang melihat foto. Perlu diingat, berhati-hatilah melakukan framing terhadap orang kedua dari foto Anda bisa menambah cerita yang Anda coba ceritakan. Meninggalkan bukti orang kedua yang tak terlihat dalam foto bisa menimbulkan pertanyaan  pada benak orang yang melihat foto Anda (Contoh: sebuah foto seseorang yang sendirian di meja dengan Dua gelas kopi di depannya, atau foto seseorang yang seolah-olah berbicara pada orang yang tak terlihat). Elemen yang tidak terlihat bisa merubah cerita cukup signifikan.

Berpikirlah Tentang Konteks

Apa yang terjadi di sekitar subyek? Apa yang ada pada background? Apa yang diceritakan elemen lain dalam foto tentang subyek utama dan apa yang terjadi dalam hidup mereka? Tentu Anda tidak ingin terlalu melakukan skenario pada background Anda, melakukannya akan mengakibatkan foto Anda menjadi klise.

Cerita Dengan Foto Berseri

Salah satu kesalahan yang biasa ditemukan pada seorang fotografer pemula, adalah mereka cenderung berusaha menempatkan setiap elemen cerita ke dalam setiap foto yang diambil. Hal ini akan menghasilkan foto bisa dikatakan 'sedikit kacau' dimana di dalam foto tersebut ada banyak focal point dan itu akan membingungkan orang yang melihatnya. Salah satu cara yang bisa menghindari hal ini dan tetap bertujuan menyampaikan sebuah cerita adalah dengan mengambil foto berseri, dengan artian apa yang Anda lakukan adalah membuat semacam film dengan menggunakan foto Anda. Seperti yang kita ketahui sebuah film adalah ribuan foto yang berurutan dan berjalan bersamaan untuk menyampaikan sebuah cerita.
Foto berseri yang digunakan untuk menyampaikan cerita bisa dalam berbagai bentuk, termasuk dua atau tiga foto yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah frame atau kolase berisi ratusan foto yang diatur dalam sebuah album. Foto berseri yang bisa mudah ditemukan dan sangat familiar adalah aktifitas fotografi yang Kita lakukan pada saat liburan. Sadar atau tidak, foto berseri tersebut merupakan dokumentasi dari pengalaman kita berlibur selama beberapa hari atau minggu, bahkan bulan. foto berseri yang lain adalah foto pernikahan, pesta, konferens, dan lain-lain.

Struktur

Saya tidak mempelajari secara khusus tentang apa itu seni bercerita, tetapi bukankah sejak duduk di bangku sekolah Kita mempelajari bagaimana berkreasi dengan tulisan? dan sebuah cerita yang bagus tidak muncul begitu saja, mereka butuh perencanaan dan terstruktur. Sebelum mememulai dunia fotografi, cerita Anda tergantung dari tipe foto yang ingin diceritakan. Cerita-cerita dasar biasanya akan terdapat elemen-elemen seperti perkenalan, plot/body dan kesimpulan
1. Perkenalan/Introduksi - Foto yang menempatkan gambar ke dalam konteks. Foto ini memperkenalkan carakter penting yang ada di dalamnya, berikan informasi tentang dimana tempat kejadian terjadi, berikan tone agar foto bisa bercerita dan menginformasikan tema cerita yang berliku. Sesi perkenalan dibutuhkan untuk menuntun penikmat foto ke dalam badan cerita, jika Anda pernah membaca sebuah novel, seringkali beberapa paragraf pertama sangat menentukan apakah orang akan membeli serta membaca sampai habis novel itu atau tidak. Hal yang sama juga berlaku  pada cerita berbentuk visual. Foto perkenalan/introduksi akan memberikan suatu alasan pada orang untuk melihat lebih dalam lagi. Seperti pada album foto travelling, foto-foto awalnya akan memperlihatkan seseorang yang lagi berkemas, sertakan foto close up peta tujuan atau tiket untuk memperkuat cerita yang ingin disampaikan.
2. Plot - Cerita yang baik adalah lebih dari kata-kata kosong. Mereka seharusnya berisi gagasan, perasaan, pengalaman dan lain-lain pada tingkat yang lebih dalam. Foto yang berisi plot cerita mungkin akan berisi cerita yang lebih dominan, mereka menunjukkan apa yang sedang terjadi tetapi tetap berisi tema dan gagasan. berikut ini merupakan beberapa contoh tema foto cerita:
  • Tema visual: Warna serta bentuk yang sering muncul, sebagai contoh album yang berisi foto-foto bangunan dengan bentuk hampir sama serta laut yang biru. Foto-foto seperti itu akan memunculkan karakter yang sangat kuat. 
  • Tema style: gaya serta teknik fotografi yang berulang, contohnya ketika Anda berlibur di suatu tempat wisata, cobalah untuk memotret foto makro bunga-bunga secara berseri, dan ketika teman Anda melihat koleksi foto tersebut, dia akan menemukan koleksi foto bunga-bunga dari tempat yang berbeda.
  • Tema lokasi: Memotret jenis tempat yang mirip atau sama, contoh: memotret tempat dengan background dan aktifitas yang sama, seperti pasar tradisional di berbagai daerah. Anda akan menemukan keunikan dari kemiripan serta perbedaan diantara pasar-pasar tradisional tersebut.
  • Tema Relasi/Hubungan : Memotret dengan fokus ke seseorang. Mencoba menangkap cerita suasana hati dari seseorang yang dekat dengan kita atau bisa juga dokumentasi hubungan personal teman-teman kita, saudara, pasangan, dan lain-lain.

Sebuah foto seri yang bercerita bisa terbentuk dari satu atau lebih tema. Tidak semua foto travelling akan muat dengan hanya satu tema, tetapi ketika Anda berusaha mewujudkannya dan berhasil, semua pasti akan terbayar lunas. Terkadang tema foto akan muncul ketika Anda sedang berada di dalam aktifitas fotografi itu, seperti ketika muncul ide baru ketika berada dalam perjalanan travelling. Tetapi banyak juga yang memang harus dipertimbangkan serta dipersiapkan. Seperti contoh diatas, dimana tema 'pasar' serta 'bunga' merupakan sebuah tema yang harus di pertimbangkan sebelum melakukan perjalanan. Rencanakan sebuah tema dan carilah tempat untuk mewujudkan foto-foto Anda.
Beberapa fotografer bahkan menuliskan sendiri daftar foto yang harus mereka ambil (foto pernikahan), dan yang lain hanya sekedar mengingat-ingat daftar itu di pikiran mereka. Kebanyakan fotografer yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan tidak hanya memotret secara spontan, tetapi juga merencanakan serta mewujudkan foto-foto dalam sebuah tema fotografi.
3. Kesimpulan - Pencerita yang baik selalu memperhatikan bagaimana cerita tersebut berakhir. Kesan akhir sangat diperhitungkan dan pastinya mempertimbangkan foto akhir/penutup akan sangat menentukan kesan dari penikmat foto Anda. Anda hendaknya membuat cerita tersebut singkat dan rapi, dan cerita yang bagus terkadang membuat orang penasaran, tetapi pertimbangkan juga bagaimana jalannya akhir cerita. Sebagai contoh pada album foto travelling, sertakan foto atau gambar matahari tenggelam di waktu senja, atau foto air port, pesawat terbang, makan malam terakhir liburan, dan lain-lain

Editing

Seperti pada novel, sebelum terbit mereka selalu melewati tahap yang dinamakan editing. Novel tersebut dikaji ulang dan di edit sampai ke dalam bentuk yang siap jual. Hal ini berlaku juga pada fotografi yang bercerita, editing dilakukan dari satu foto seperti cropping, sharpening, color enhancement, dan lain-lain sampek ke presentasi foto secara berseri. Ketika menyusun dan mepresentasikan foto berseri, pemilihan foto merupakan pertimbangan yang sangat penting. Pisahkan foto yang bercerita dan foto orang terdekat dalam album yang terpisah.

Rahasia Membuat Foto HEBAT!!!

Dunia Fotografi - Hampir setiap orang yang menenteng sebuah kamera pasti menginginkan membuat sebuah foto yang membuat orang lain mengucapkan: "Wow! Foto yang bagus!", tetapi sayangnya hanya beberapa orang yang berhasil mendapatkannya. Kenapa? Mungkin karena tidak banyak orang yang mengetahui apa sebenarnya yang membuat sebuah foto itu bagus menurut kebanyakan orang. Berikut ini adalah beberapa faktor yang membuat sebuah foto menjadi luar biasa.
Lightroom Preset Photography

1. Foto bagus adalah yang terkomposisi dengan benar - Banyak sekali buku maupun artikel yang mengulas tentang komposisi dalam fotografi, dan memang sebaikna Sobat menyisihkan waktu membaca apa yang diulas didalamnya. Untuk sementara beriku ini adalah beberapa tips yang layak untuk diingat:
  • Mendekatlah ke subyek foto. Sebagai contoh jika Sobat melihat sebuah bunga mawar yang terlihat menarik dengan embun pagi di kelopak bunganya, maka mendekatlah pada bunga tersebut. Semak-semak yang ada di sekelilingnya bisa menjadi pengalih perhatian (distraction). Contoh yang lain: Jika Sobat sedang memotret wajah kegemberiaan dari seorang anak kecil ketika memenangkan sebuah perlombaan sepak bola, maka tunjukkan sedikit lapangan bola di belakang mereka sehingga penikmat foto bisa menggambarkan secara penuh. Gambar tersebut bukan tentang seorang anak yang bahagia, melainkan tentang seorang anak yang memenangkan sebuah pertandingan sepakbola, tunjukkan hal tersebut pada penikmat foto kalian.
  • Framing. Jika Sobat memotret sebuah landscape, cobalah gunakan cabang pepohonan sebagai foreground. Sobat juga bisa menggunakan framing ketika memotret orang, sebagai contoh Sobat bisa melakakun framing pada sekelompok anak kecil yang bermain di taman menggunakan ayunan sebagai foreground. Cobalah sekreatif mungkin.
  • Gunakan Rule of Thirds. Percayalah komposisi ini mudah untuk dilakukan, bayangkanlah tiga garis horisontal yang melintang pada foto kalian, dan bayangkan juga tiga garis vertikal pada foto yang salam. Titik singgung antara garis-garis tersebut merupakan bagian terpenting dimana kalian meletakkan subyek dalam foto kalian. Cobalah memotret menggunakan prinsip komposisi ini, dan cobalah juga untuk meletakkan subyek ditengah-tengah dan lihatlah bagaimana perbedaannya.
2. Foto bagus adalah foto yang memiliki exposure yang pas - Foto yang memiliki exposure buruk tidak akan pernah menjadi foto yang hebat. Meskipun anda mengolahnya dengan perangkat editing gambar sekalipun tidak akan memberikan hasil yang bagus dibandingkan foto yang memiliki exposure yang benar. Luangkan waktu untuk mempelajari bagaimana menggunakan metering pada kamera digital kalian.

3. Foto bagus bisa memainkan perasaan - Sebuah foto yang bagus mampu membangkitkan emosi, dari tertawa melihat foto kucing konyol yang terjerat tali sampi perasaan sedih dan ngeri ketika melihat foto korban perang. Foto setidaknya harus membangkitkan perasaan yang kuat pada penikmat foto, jadi sebelum kita menekan tombol shutter, tanyakan pada diri Sobat sendiri emosi apa yang ingin kalian hadirkan pada foto tersebut. Identifikasikan perasaan sebelum Sobat memotret, dan secara otomatis foto-foto kalian akan mengalami peningkatan.

4. Foto bagus adalah yang bercerita - Pertama mendengar hal ini mungkin akan sedikit susah mempercayainya, tetapi sebuah foto yang bagus selalu menyampaikan sebuah cerita. Jika foto tersebut adalah foto seseorang, maka foto yang bagus adalah menceritakan siapa orang tersebut. Sebuah foto siswa selalu memotret bagaimana "tampang" siswa tersebut, dan jarang bercerita siapa sebenarnya anak tersebut.

5. Foto bagus adalah yang menceritakan sesuatu tentang kehidupan - Foto bagus adalah yang menceritakan sesuatu pada penikmat foto dan bukan hanya bagaimana suatu obyek tampak. Mereka memperlihatkan lebih dari sebuah subyek foto. Sebuah foto yang batus menceritakan tentang sesuatu tentang kehidupan itu sendiri. Foto tersebut bisa membuat seseorang berpikir. Sebuah foto kucing yang sedang bermain dengan untaian benang atau tali bisa memperlihatkan bagaimana kehidupan sebenarnya bisa menyenangkan dan kita bisa bermain jauh dari pemikiran negatif. Foto sebuah pegunungan tidak lagi menjadi menarik ketika penikmat foto hanya bisa melihat bebatuan. Dengan menyertakan jurang bisa memberikan cerita kehidupan bisa menjadi berbahaya. Gunakan foto kalian untuk menyampaikan hal-hal yang Sobat ketahui kebenenarannya adalah kehidupan.

Jumat, 11 Januari 2013

Fotografi dan uang


Buat duit dari fotografi bukan kerja senang. Tiada siapa akan berikan kita duit dengan mudah, kecuali jika kita memang benar-benar layak dan terbukti bagus. Ramai peminat fotografi berhasrat untuk menjana wang dari bidang fotografi kerana dikatakan – menjana wang dengan melakukan perkara yang kita minati adalah sungguh menyeronokkan. Kenyataan ini nampak sungguh menarik; semua orang pasti sukakannya. Tetapi malang sekali, kenyataan ini telah mengelirukan dan memperdayakan ramai orang, lalu ramailah yang tidak berpijak di bumi yang nyata. Jadi, apakah realitinya?


*Gambar seperti ini mungkin mempunyai nilai seni, tetapi tidak nilai komersial. Apa pun, gambar seperti ini dirakam bukan untuk wang, tetapi untuk kepuasan peribadi. (foto oleh Hasnuddin Abu Samah)

Tidak dinafikan, ada segelintir jurufoto yang memperolehi pendapatan lumayan disamping mengecap kepuasan dengan melakukan kerja yang diminatinya. Sekadar sebagai contoh, mungkin ada jurufoto yang amat meminati fotografi hidupan liar dan telah berjaya menampung hidupnya melalui bidang yang dicintainya ini. Mari kita namakan jurufoto ini dengan nama Sulaiman. Hidup Sulaiman kelihatan indah dan menjadi idaman ramai orang. Sulaiman tidak perlu menempuh kesesakan lalu lintas untuk pergi ke pejabat setiap hari; sebaliknya, Sulaiman selalu melakukan tugasan di tempat-tempat eksotik yang hanya mampu dimimpikan oleh kebanyakan orang lain. Tugasan sebagai jurufoto hidupan liar juga memberi peluang kepada Sulaiman untuk menyaksikan sendiri berbagai keajaiban hidupan liar di habitat mereka, dimana perkara ini hanya dapat disaksikan oleh orang lain melalui kaca televisyen atau menerusi gambar semata-mata. Sulaiman juga mempunyai kamera, lensa dan peralatan fotografi yang hebat-hebat belaka; sesuai dengan dirinya sebagai seorang jurufoto bertaraf profesional. Karya foto Sulaiman juga seringkali terpampang di dalam majalah, di dalam buku dan kerap juga dipamerkan di pameran-pameran fotografi yang berprestij. Dengan semua ini, Sulaiman juga memperolehi pendapatan yang lumayan dari kerjayanya (sekurang-kurangnya inilah apa yang disangkakan) Apa yang lebih menarik ialah, Sulaiman menjalani hidupnya dengan melakukan kerja yang amat diminatinya dan dibayar untuk melakukannya!

Gaya hidup dan kerjaya seperti Sulaiman memang menjadi idaman ramai orang, terutamanya bagi jurufoto yang meminati fotografi hidupan liar. Tetapi, disebalik semua keindahan kerjaya yang kelihatan ideal ini, tidak ramai yang tahu realitinya. Memang telah menjadi lumrah; kita sering diceritakan mengenai perkara yang baik dan positif sahaja. Tujuannya adalah baik – agar kita mendapat inspirasi dan motivasi untuk turut berjaya seperti Sulaiman. Tetapi, tanpa mengetahui realiti di sebalik kehidupan Sulaiman, peminat fotografi yang baru berjinak-jinak di dalam bidang ini akan tenggelam dalam mimpi.

Apa yang digambarkan mengenai gaya hidup Sulaiman mungkin benar atau mungkin hanya separuh benar. Apakah agaknya kenyataan yang mungkin tidak benar itu? Benarkah Sulaiman memperolehi pendapatan lumayan hasil dari menjadi jurufoto hidupan liar? Mungkin ianya benar. Tetapi, siapa tahu, mungkin juga sebenarnya Sulaiman mempunyai sumber pendapatan lain seperti pendapatan dari belian saham atau seumpamanya. Atau mungkin juga Sulaiman sebenarnya adalah anak kepada seorang tauke balak yang kaya raya! Sulaiman tentu tidak akan mendedahkan kepada kita bahawa beliau sebenarnya dibiayai oleh bapanya. Bagaimana pula dengan kamera mahal dan lensa-lensa besar yang dimiliki oleh Sulaiman? Mungkin beliau sememangnya memiliki peralatan tersebut hasil dari kerja fotografinya. Tetapi, mungkin juga sebenarnya peralatan tersebut adalah peralatan terpakai yang dibeli dengan harga murah. Atau mungkin juga peralatan tersebut dipinjam dari seorang rakan baiknya. Tidak kiralah apa pun, samada Sulaiman anak tauke balak atau Sulaiman meminjam kamera orang lain, Sulaiman tidak bersalah. Apa yang salah ialah orang lain yang berangan ingin menjadi seperti Sulaiman, tetapi tidak tahu realiti sebenarnya.

Seterusnya, mari kita buat andaian lain yang lebih positif pula. Katakanlah Sulaiman memang memperolehi pendapatan lumayan dari bidang fotografi hidupan liar. Beliau adalah seorang yang berjaya dalam bidang fotografi dan beliau juga adalah seorang yang berjaya dari aspek kewangan. Beliau berasal dari keluarga miskin dan beliau banyak berdikari sehingga berjaya. Senario ini nampak lebih hebat dan Sulaiman memang patut dijadikan idola. Lalu, ramailah yang bercita-cita untuk menjadi seperti Sulaiman – seorang jurufoto hidupan liar yang hidupnya penuh dengan pengembaraan sambil memperolehi pendapatan lumayan. Tetapi, nanti dulu!

Kehidupan Sulaiman sekarang memang nampak hebat. Tetapi, tahukah kita betapa sukarnya jalan yang telah ditempuh oleh Sulaiman untuk sampai ke tahap ini? Adakah kita cukup tabah dan benar-benar mempunyai keghairahan seperti Sulaiman untuk terus kuat menghadapi berbagai dugaan dalam bidang ini? Tanpa minat yang mendalam, cabaran yang datang akan menjadi beban yang tidak akan terpikul. Hanya minat dan kesungguhan yang akan meringankan cabaran yang mendatang.
Ketika ini Sulaiman hidup senang. Sambil goyang kaki pun, wangnya terus masuk melalui royalti dari jualan buku-buku hidupan liar yang pernah diterbitkannya. Tetapi, pernahkah kita terfikir atau tertanya, berapa lamakah Sulaiman pernah hidup susah di awal pembabitannya di dalam bidang ini? Suatu waktu dahulu, mungkin Sulaiman pernah ditipu oleh penerbit buku, pernah berhutang keliling pinggang, pernah tinggal di rumah yang sempit dan sebagainya. Sanggupkah kita melalui kesusahan yang sama?
Sulaiman yang hebat ini telah menjejakkan kaki ke hampir seluruh pelusuk dunia bagi merakam gambar haiwan-haiwan di habitat mereka. Sulaiman telah menjelajah ke segenap hutan rimba, gunung-ganang, gurun dan lautan. Ini bukan percutian, tetapi tugasan. Beliau telah banyak berkorban dan mengambil risiko. Berkorban masa berjauhan dengan orang yang tersayang dalam tempoh masa yang lama dan mengambil risiko tinggi berhadapan dengan bahaya dan penyakit di tempat yang asing lagi terpencil. Apa pula yang sanggup kita korbankan dan pertaruhkan?

Sulaiman yang terkenal ini dilihat sebagai seorang yang sentiasa menempuh pengalaman menarik dalam kerjayanya. Ramai orang yang ingin merasai pengalaman seperti beliau. Tentu sekali Sulaiman juga gembira kerana berpeluang merasai pengalaman unik yang tidak diperolehi oleh orang lain. Tetapi, sebagai seorang jurufoto profesional, Sulaiman memikul tanggungjawab yang besar dan bekerja dengan berbagai tekanan. Tidak seperti peminat fotografi yang merakam gambar burung di hujung minggu untuk kegiatan hobi mereka.
Demikianlah realiti hidup Sulaiman – seorang jurufoto hidupan liar. Jika anda ingin menjadi seperti Sulaiman, bersedialah dan berusahalah. Jika anda tidak sanggup menghadapi cabaran dan tidak sanggup berkorban, inilah masanya untuk memikirkan semula impian anda. Sesungguhnya, kerjaya ini bukan untuk semua orang. Tentu ada bidang fotografi lain yang lebih sesuai untuk anda. Logiknya, tidak ada satu pun perkara atau kerjaya yang baik belaka. Setiap keindahan dan kesenangan, perlu dibayar dengan kesukaran dan pengorbanan. Ingin ditegaskan sekali lagi, kenyataan yang mengatakan ‘dibayar untuk melakukan kerja yang kita minati’ tidaklah seindah khabar dari rupa. Seperti ungkapan Inggeris – it’s too good to be true. Jika ia sebagus itu, tentu ada sesuatu yang tersembunyi di sebaliknya yang kita tidak tahu. Jika ianya begitu bagus, mengapa tidak semua orang memilikinya? Jika semua orang ingin mendapatkannya, tentulah akan wujud persaingan yang amat hebat, lalu seseorang itu perlu berusaha gigih untuk berjaya.
Kisah Sulaiman sebagai seorang jurufoto hidupan liar adalah simbolik kepada apa jua bidang fotografi yang kita minati yang ingin kita jadikan kerjaya atau sumber pendapatan. Mungkin ianya bukan fotografi hidupan liar, tetapi bidang lain dalam fotografi yang kita minati seperti fotografi pemandangan, fotografi fesyen, fotografi kewartawanan, fotografi seni halus dan sebagainya. Untuk menjadikan bidang-bidang ini sebagai hobi tidak ada masalah. Tetapi jika anda ingin menjadikannya sebagai punca pendapatan utama, ianya perlu difikirkan masak-masak. Walau bagaimana pun, tidak ada perkara yang mustahil yang tidak dapat kita capai asalkan kita sanggup bekerja keras. Buatlah keputusan mengikut kebolehan dan kesanggupan diri kita sendiri.

Kesimpulan dari kisah Sulaiman ialah, hobi anda dalam fotografi hidupan liar misalnya mungkin hanya patut kekal sebagai hobi kerana tidak semestinya sesuatu hobi itu sesuai dijadikan sumber pendapatan utama. Hobi dan kerjaya adalah sesuatu yang amat berbeza dan hakikatnya ia tidak boleh jalan selari. Hobi dibuat untuk kepuasan diri sendiri semata-mata tanpa ada sebarang tekanan dari sesiapa. Sementara itu, kerjaya adalah sesuatu kerja yang dibuat untuk memenuhi permintaan pasaran atau pelanggan sehingga membolehkan kita menerima bayaran. Di dalam kerjaya atau perniagaan, wujud tekanan masa, tekanan kos dan tekanan dari pihak atasan. Kerjaya perlu dilakukan dengan penuh tanggungjawab, bukan sekadar suka-suka untuk memenuhi masa lapang seperti kita melakukan hobi.
Walaupun begitu, anda masih boleh menjana pendapatan dari bidang fotografi. Mungkin anda minat merakam gambar pemandangan (atau apa-apa subjek sekalipun) Tetapi, tidak semestinya anda perlu merakam gambar pemandangan untuk menjana pendapatan sekiranya subjek ini tidak menjanjikan pendapatan yang berbaloi untuk anda (mungkin ada jurufoto lain yang berjaya menjana pendapatan dari melakukan fotografi pemandangan, tetapi, mungkin ia tidak sesuai untuk anda) Kekalkan minat anda merakam gambar pemandangan sebagai hobi sahaja. Sebaliknya, untuk menjana pendapatan, cari bidang fotografi lain yang lebih menguntungkan dan lebih sesuai dengan diri anda.
Kita mungkin akan rasa teruja apabila mengetahui ada seorang jurufoto telah berjaya menjual sekeping gambar pemandangan yang dirakamnya dengan harga RM5,000! Lalu, kita pun lekas-lekas ingin menjadi seperti beliau. Tetapi, satu perkara yang kita terlepas pandang ialah, beliau telah bergiat dalam bidang ini selama lebih dari 5 tahun secara serius dan ini adalah kali pertama gambarnya berjaya dijual semahal itu. Jadi, sebenarnya, nilai RM5,000 itu adalah sangat-sangat kecil jika dibandingkan dengan pelaburan masa dan pelaburan wang yang telah beliau lakukan. Ya, sekurang-kurangnya dia tetap mendapat wang sebagai pendapatan sampingan. Tetapi, angka itu tidak cukup baik, lebih-lebih lagi jika anda ingin menjadikan fotografi sebagai sumber pendapatan utama.

Dari aspek perniagaan, untuk menjana pendapatan, kita tidak semestinya buat apa yang kita minat semata-mata, tetapi kita harus minat buat apa saja yang boleh memberikan keuntungan asalkan ianya tidak menyalahi undang-undang. Jika kebetulan bidang perniagaan itu adalah satu bidang yang kita minati, maka ianya adalah satu bonus besar untuk kita. Namun, kita bebas melakukan apa saja yang kita suka untuk mendapat kepuasan, tetapi belum tentu kita akan berjaya menjana pendapatan yang lumayan.
Saya seringkali ditanya oleh peminat fotografi baru – bagaimanakah cara mudah untuk menjana pendapatan dari fotografi? Jawapan saya – buat duit dari fotografi bukan suatu perkara mudah. Ianya adalah satu perkara yang berbeza dari fotografi itu sendiri. Buat duit dari fotografi adalah bukan mengenai fotografi lagi. Ianya adalah mengenai keusahawanan. Disamping mesti mempunyai ilmu dan kemahiran dalam fotografi, kita juga perlu ada ilmu dan kemahiran dalam bidang perniagaan jika kita ingin benar-benar berjaya menjana wang dari fotografi.
Ilmu dalam perniagaan itu sendiri adalah amat luas sekali. Ianya mencakupi penjenamaan, pemasaran, jualan, strategi harga, kualiti produk, kawalan kos material, kecekapan kerja, pengurusan kewangan, akaun, pentadbiran, pengurusan tenaga kerja dan sebagainya. Tetapi, semua ini boleh dipelajari. Pengalaman akan mendewasakan kita. Usahanya mungkin perlu lebih, tetapi hasilnya amat berbaloi.
Jadi, anda perlu pastikan dan pilih keutamaan anda. Adakah anda ingin melakukan sesuatu untuk kepuasan atau adakah anda ingin menjana pendapatan? Anda mungkin boleh dapat kedua-duanya sekali, tetapi ianya adalah amat sukar. Apabila keutamaan anda adalah untuk menjana pendapatan, lupakan dulu mengenai kepuasan berkarya. Apabila anda telah buat keputusan untuk menjana pendapatan, perkara pertama yang perlu disoal ialah – bidang fotografi apakah yang paling besar potensinya untuk mendapat keuntungan? Dalam beberapa bidang yang telah dikenal pasti, pilihlah bidang yang paling sesuai dengan diri anda. Lakukannya dengan bersungguh-sungguh atas sebab keusahawanan, bukan atas sebab kepuasan berkarya semata-mata.

Bidang fotografi yang paling popular dan dianggap ‘mudah’ untuk menjana pendapatan ialah fotografi perkahwinan. Ianya amat popular terutama sekali di kalangan peminat fotografi yang baru menceburkan diri dalam bidang ini. Sememangnya permintaan untuk khidmat fotografi perkahwinan adalah tinggi. Namun begitu, persaingan juga adalah sengit sekali. Fotografi perkahwinan diminati oleh jurufoto yang ingin mencari duit lebih kerana bidang ini hanya memerlukan peralatan minima, kemahiran minima dan modal yang minima. Persaingan adalah sengit dalam sektor bajet rendah untuk fotografi perkahwinan disebabkan kelayakan minima yang diperlukan untuk berniaga dalam bidang ini. Namun, untuk pakej fotografi bagi pelanggan yang berbajet besar, persaingannya tidaklah begitu sengit kerana pada sektor ini, seseorang jurufoto itu perlu betul-betul cemerlang dalam penghasilan karyanya, cemerlang dalam pemasaran dan sebagainya. Apa pun, memang telah terbukti, telah ada ramai jurufoto yang telah berjaya menjana pendapatan lumayan dari bidang fotografi perkahwinan. Mereka ini tidak menganggap fotografi perkahwinan sebagai hobi mereka. Ia adalah kerjaya yang dilakukan dengan komitmen yang tinggi. Bidang ini bukanlah bidang glamour atau berstatus tinggi (selalunya) jika dibandingkan dengan bidang fotografi lain; tetapi, ianya memberikan pulangan yang baik dari segi kewangan.

Selain dari fotografi perkahwinan, bidang fotografi lain yang popular sebagai penjana pendapatan ialah perkhidmatan fotografi majlis rasmi, fotografi komersial, fotografi potret, fotografi produk, fotografi fesyen, fotografi dokumentari, fotografi microstock dan sebagainya. Ada diantara bidang yang dinyatakan ini nampak lebih hebat dan lebih glamour berbanding bidang lain. Lalu wujudlah jurufoto yang cuba untuk menguasai bidang tersebut. Disebabkan bidang itu adalah bidang yang diminatinya dan ia memberi kepuasan kepada jurufoto tersebut, maka adakalanya dia sanggup menerima tugasan dengan bayaran rendah; malah ada yang sanggup melakukannya secara percuma! Dia tidak kisah walau tidak dapat duit asalkan dia mendapat kepuasan. Lalu, ini akan memberi kesan buruk terhadap nilai pasaran bagi perkhidmatan tersebut. Ada dua perkara yang boleh dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Pertama, kita perlu bersaing secara sihat dari segi kualiti perkhidmatan atau produk, bukannya bersaing dengan melancarkan perang harga. Penyelesaian kedua ialah, cuba elakkan bidang fotografi yang ramai jurufoto minat melakukannya kerana kepuasan peribadi semata-mata. Bidang seperti ini selalu mempunyai masalah perang harga. Kecuali jika anda berjaya membezakan diri anda dari pesaing-pesaing lain dari segi kualiti atau jika anda ‘bermain’ di sektor tertentu yang tidak sensitif kepada faktor harga.

Perang harga dan pembunuh pasaran memang menjadi salah satu masalah dalam bidang perniagaan fotografi kerana fotografi adalah merupakan hobi kebanyakan orang. Lalu, penghobi ini rela merakam gambar secara percuma, sedangkan ada jurufoto lain yang cuba mencari rezeki dari bidang ini secara sepenuh masa.
Tidak seperti kerjaya profesional yang lain seperti peguam, arkitek atau doktor perubatan; untuk bergelar peguam, arkitek atau doktor perubatan, seseorang itu perlu melepasi syarat-syarat kelayakan yang ketat. Dalam bidang-bidang ini juga tidak ada masalah besar dari segi perang harga kerana tidak ada orang yang melakukan kerjaya peguam, arkitek atau doktor sebagai hobi dan kepuasan semata-mata.
Tidak ada gunanya kita menyalahkan penggiat hobi. Mereka mempunyai objektif yang berbeza dari jurufoto profesional atau usahawan fotografi. Apa yang lebih penting ialah, usahawan fotografi sendiri perlulah bijak menangani masalah ini dan perlu bijak mencari peluang-peluang baru untuk berjaya.

Kita dapat lihat sekarang ini, begitu ramai orang yang meminati bidang fotografi berikutan perkembangan pesat dalam teknologi kamera digital. Oleh kerana semakin ramainya peminat fotografi, maka makin ramai juga jurufoto yang cuba menjana pendapatan dari bidang ini. Oleh itu, persaingan adalah begitu sengit sekali. Lebih parah lagi apabila ada jurufoto yang bersaing secara tidak sihat dengan menawarkan harga yang sangat rendah. Lebih memburukkan keadaan apabila keadaan ekonomi dunia tidak begitu memberangsangkan buat ketika ini.

Kemunculan ramai jurufoto sambilan yang cari makan dalam industri fotografi ini memang agak memeningkan kepala bagi sesetengah jurufoto yang menjadikan fotografi sebagai sumber pendapatan utama mereka. Tetapi, jika dilihat dalam sudut yang positif, fenomena ini mempunyai kebaikan dan kesan yang baik dari sudut lain. Kebaikan pertama ialah; dengan persaingan sihat yang wujud, setiap jurufoto akan berusaha dengan lebih gigih bagi menghasilkan karya dan perkhidmatan yang terbaik. Dengan itu, bidang fotografi akan maju ke tahap yang lebih tinggi dalam tempoh masa yang lebih cepat. Kebaikan kedua ialah, pelanggan akan mempunyai pilihan yang lebih luas dengan harga yang lebih kompetitif (asalkan bukan harga rendah yang tidak munasabah). Harga kompetitif bukan bermakna kerugian bagi pihak jurufoto, tetapi ianya merupakan satu kebaikan dimana jurufoto akan menjadi lebih bijak menangani isu kos dan kecekapan kerja agar harga berpatutan dapat ditawarkan disamping memperolehi keuntungan yang optima.

Dalam konteks yang lebih luas, lambakan jurufoto sekarang ini adalah petunjuk positif bahawa industri fotografi adalah satu industri yang besar, mempunyai permintaan yang tinggi dan sentiasa berkembang maju. Ini bermakna, ada banyak peluang perniagaan yang belum diterokai sepenuhnya dalam industri ini. Cuma, kita jangan sempitkan peluang perniagaan itu hanya dengan cara merakam gambar semata-mata. Bila kita melihat fotografi sebagai satu industri besar, kita harus faham bahawa, fotografi bukan sekadar mengenai jurufoto sahaja.

Apabila ramai orang meminati fotografi, ianya memberi kesan kepada keseluruhan industri. Untuk mengembangkan bidang fotografi, semua bidang lain yang berkaitan dengan fotografi perlu turut berkembang maju. Dengan erti kata lain, semua bidang yang berkaitan dengan fotografi juga akan turut menawarkan peluang perniagaan yang luas. Maksudnya, apabila wujudnya ramai jurufoto, maka akan wujud juga permintaan yang tinggi terhadap jualan kamera, jualan aksesori fotografi, pembelajaran fotografi, majalah fotografi, buku fotografi, kedai mencetak foto, perkhidmatan photo retouching, kedai membuat album, kedai bingkai gambar, khidmat sewaan studio dan sebagainya. Kita boleh merebut peluang ini dengan menawarkan perkhidmatan atau menjalankan perniagaan dalam mana-mana sektor yang berkaitan fotografi.
Sejak beberapa tahun kebelakangan ini, terdapat permintaan yang tinggi terhadap jualan kamera dan peralatan fotografi. Kita dapat lihat ada banyak kedai-kedai menjual kamera muncul di mana-mana sahaja. Malah, kedai kamera secara online juga turut muncul seperti cendawan tumbuh selepas hujan. Walaupun terdapat berpuluh kedai kamera di Malaysia, adakalanya masih ada juga barang yang dicari tidak ada dijual di kedai mereka. Ini menunjukkan bahawa masih ada ruang dan peluang terutamanya dalam bidang pengkhususan (niche) untuk sektor ini. Bidang ini adalah dalam kategori peruncitan (retailing) Mungkin anda tidak meminati bidang peruncitan, tetapi, sekurang-kurangnya ia masih berkisar mengenai fotografi. Dengan minat dan pengetahuan anda dalam fotografi, ia akan menjadi satu nilai tambah bagi perniagaan menjual kamera dan peralatan fotografi.

Sementara itu, sektor pembelajaran fotografi juga turut sama berkembang pesat selari dengan bertambahnya peminat fotografi di negara ini. Kita boleh lihat sekarang, berbagai institusi pengajian tinggi telah menawarkan pengajian berkaitan bidang fotografi untuk peringkat sijil, diploma mahupun ijazah sarjana muda, samada secara separuh masa atau sepenuh masa. Antara institusi pengajian tinggi yang dimaksudkan ialah UiTM, UNISEL, UNIMAS, UTMSPACE, UIA , Open University Malaysia, Limkokwing, KDU, SEGi dan beberapa lagi. Selain dari insititusi pengajian tinggi, ada lebih banyak lagi syarikat atau individu yang menganjurkan kursus dan lain-lain bentuk pembelajaran fotografi di seluruh Malaysia. Sektor ini amat memerlukan pensyarah dan jurulatih yang berkemahiran. Siapa lagi yang lebih layak jika bukan dari kalangan peminat fotografi yang berilmu dan berkemahiran?

Oleh kerana wujudnya permintaan yang tinggi terhadap informasi dan ilmu fotografi, sektor penerbitan bahan fotografi juga telah berkembang maju. Kita boleh lihat kini, dalam masa yang singkat telah muncul beberapa majalah fotografi baru bagi menyokong perkongisan maklumat dalam bidang ini. Begitu juga dengan buku fotografi – semakin banyak buku dengan berbagai tajuk pengkhususan fotografi telah diterbitkan untuk peminat-peminat fotografi. Apa yang lebih menarik lagi, kini buku-buku fotografi dan majalah fotografi telah mula ditulis dalam Bahasa Malaysia dan diterbitkan oleh syarikat di Malaysia! Ini menunjukkan wujudnya permintaan yang baik dalam sektor ini berikutan perkembangan dalam industri fotografi itu sendiri. Sektor ini amat memerlukan penulis yang bukan sahaja berkemahiran menulis, tetapi perlu juga mempunyai pengetahuan dalam bidang fotografi. Jadi, selain menjadi jurufoto, peminat fotografi kini juga boleh mempertimbangkan untuk menulis artikel atau menulis buku untuk berkongsi ilmu pengetahuan disamping menjana pendapatan.

Sebenarnya ada banyak lagi bidang berkaitan fotografi yang menawarkan peluang kerja atau peluang perniagaan bagi sesiapa sahaja yang bijak mencari, mengesan dan merebut peluang tersebut. Syaratnya – jangan hanya melihat fotografi dalam skop yang kecil. Fikir secara kreatif, fikir mengenai pengkhususan dan jadi pakar dalam bidang tersebut agar kita dapat bersaing atau lebih baik lagi jika kita dapat menjadikan persaingan adalah tidak relevan.
Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya selama lebih dari 10 tahun sebagai usahawan dalam bidang fotografi. Sumber pendapatan utama saya sekarang adalah melalui 2 perniagaan ini – iaitu Adan Cameraworks (khidmat fotografi dan videografi) dan FOTOTEACHER.COM (pusat latihan fotografi) Sebuah lagi perniagaan yang baru diwujudkan oleh kami ialah perniagaan menjual aksesori fotografi dengan pengkhususan dalam kelengkapan fotografi analog.